Kamis, 18 Februari 2016

Kekasihku

Ada lebih dari seribu kata ketika aku menggambarkan mu.
Tapi hanya 3 yang mampu aku tuliskan.

Yang pertama adalah Tampan, iya tampan. Rupamu kekasihku sangatlah tampan. Aku tidak pernah merasa tidak beruntung memiliki mu. Wajahmu manis. Sangat enggan ketika aku harus melihat lelaki lain selain dirimu, kecuali Ayahku ya. Rupamu itu kekasihku, sempurna. Dengan hidung yang mancung, mata yang agak sipit, alis yang tidak terlalu tebal tapi tidak juga tipis, dan bibirmu oh kekasihku, bibir tipis yang selalu ingin kukecup setiap hari.

Yang kedua adalah tidak peduli atau tak acuh atau apalah itu yang sama artinya dengan itu.  Kamu kekasihku, tahukah dirimu betapa kurang peduli nya dirimu itu? . Aku disini meski lebih dari tiga tahun bersamamu. Aku masih perlu untuk tahu kabarmu, tahu keberadaanmu. Layaknya pasangan yang lain kekasihku. Karena suatu hubungan yang semakin lama komunikasi masih tetap perlu. Aku bukan paranormal ataupun malaikat yang selalu tahu sedang apa atau berada dimana dirimu. Bukan kekasihku, bukan.

Dan yang ketiga adalah Keras kepala. Kepala batu yang kau miliki sama denganku. Kita sama-sama keras kepala. Sama-sama mempunyai ego yang tinggi. Tapi kurasa selama ini kita sudah belajar terkadang untuk saling mengalah. Saling mengerti satu sama lain.

Hmmm.
Kamu pasti bertanya kekasihku, kenapa sifat yang buruk saja yang kebanyakan aku sebut. Kenapa baiknya cuma satu?
Kujawab kekasihku, Baik mu juga lebih dari Seribu kata yang aku gambarkan tentang mu. Karena aku tidak ingin pembaca tulisanku akan jatuh cinta pada dirimu. Aku ingin aku saja yang mencintaimu kekasihku. Karena kau milikku, milikku selamanya. 

Hari ke-20
#30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 12 Februari 2016

Surat Untuk Om Pidi Baiq (2)

Om Pidi Baiq. Hai.. 
Aku sudah membaca buku keduanya Dilan. Ceritanya tak terbayangkan ya. Aku kecewa dengan ending cerita buku kedua mu. Kenapa Milea dan Dilan akhirnya harus putus ? Aahh. Aku saja yang hanya membaca sedihnya tiada tara.
Saat aku membaca buku kedua mu, entah aku jadi tidak suka dengan Milea-mu. Milea terlalu ego dan tidak berpikir panjang ketika ia selalu berkata "putus" dengan Dilan. Aku tau ia masih SMA yang berpikirnya belum dewasa. Tetap saja aku tidak suka. Walau Akhirnya pun Milea menyesal juga karena keputusannya yang terburu-buru. Tuh kan Om!.
Dilan yang juga mempunyai harga diri atau yang biasa disebut "gengsi" yang tinggi pun menerima dengan santai saat Milea memutuskan hubungan mereka. Kenapa begitu sih Om? Kenapa Dilan tidak menuruti Milea saja om?  Kenapa? . Ah maaf om, aku jadi maeah-marah seperti ini. Itu kan hakmu ya yang membuat cerita.
Dilan oh Dilan, sangat disayangkan ya. Hubungan mereka  yang aku kagumi, kandas begitu saja. entah gengsi dengan cinta ia lebih mempertahankan gengsinya.
"Dilan ga suka dikekang,Bunda" kata Dilan di bukumu Om.
Aku sadar ketika membaca kalimat itu. Bahwa suatu hubungan itu harus bisa saling mengerti, bisa menasehati tanpa mengekang, meminta paksa pasanganmu untuk menuruti ego kita. Karena hubungan itu terdiri dari 2 pikiran yang bisa menyatu, bukan 2 pikiran yang harus menuruti pikiran yang mendominasi. Ya kan Om? 
Ah sudahlah ya. Meski begitu, aku suka bukumu Om. Alur yang tidak terduga. Tak sabar aku menunggu buku ketiga mu dirilis.
Bye bye Om Pidi Baiq. 

Hari ke-13
#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 09 Februari 2016

Rangers

Hai Tiara, Vivi, Eva, Rian, Riska. Sedang apa ya kalian sekarang. Yang jelas kalian sedang menata hidup untuk masa depan masing-masing.
Aku selalu ingat ketika masih kuliah dulu, dari semester awal sebelum kita dekat sampai sekarang yang masih dekat tapi terpisah untuk sebuah kesuksesan.
Aku ingat ketika kita masih kuliah, kuliah yang hanya 3-4 jam. Tapi hangoutnya yang lebih dari 5 jam. Kita yang dulu pernah dipanggil wakil rektor hanya karna kartu UNO. hahaha lucu ya. Hanya karena bermain kartu Uno yang sering dimainkan anak kecil juga, tapi kartu itu langsung diambil oleh satpam dan dipanggil oleh wakil rektor. Mereka menganggap kita bermain judi. Hahaha entah lah.
Lalu aku ingat ketika kita tinggal bersama selama PPL waktu itu. Satu rumah dengan kalian rasanya campur aduk. Suka dukanya banyak sekali. Dari yang kebocoran, bersih-bersih rumah terus, harus bangun pagi karena jadwal sekolah yang pagi, harus membangunkan kalian yang kebonya minta ampun.  Haha rasanya rindu tinggal bersama seperti waktu itu lagi.
Tapi sekarang setelah kita lulus kuliah, kita jarang bertemu.  Kalian pun juga ada yang sudah menikah. Doakan aku menyusul ya. Hohoho dan jangan sampai lupa dengan kebersamaan kita yaa. Love youuuuu... ����������



Hari ke -11
#30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 06 Februari 2016

Tak lebih dari itu

Dalam suratku kali ini aku ingin bercerita tentang orang yang kusebut dengan "SAHABAT". Sahabat ku ini seorang laki-laki. Aku mengenalnya sedari smp dulu. Sering aku dengar kalau persahabatan lawan jenis adalah bulshit. Bulshit?  Belum tentu.
Buktinya aku dan dia tetap baik-baik saja sampai saat ini. Iya baik-baik saja. Kalau salah satunya bisa mengerti keadaan sahabatnya. Dan yang tak mengerti itu adalah aku. Aku yang terlalu ego,  terlalu memaksa keinginan untuk bertemu. hubungan persahabatan kami pernah meregang.
Sempat aku tidak berkomunikasi sama sekali dengannya.
Tidak lama, aku sadar memang aku yang salah. Aku mulai menghubunginya lagi. Hubungan persahabatan kami membaik kembali.
Tapi, Panggilan yang sering disebutnya dulu sekarang menghilang. Aku munafik jika aku bilang tidak merindukan panggilan itu. Sangat rindu.
Tetapi cukuplah dengan hubungan persahabatanku membaik.  Itu saja. Tak lebih dari itu.

Hari ke -7
#30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 05 Februari 2016

Mencintaimu

Entah ku namai apa perasaan yang tak terkendali ini. Rasa yang pernah menggebu-gebu tetapi terkadang hilang, sunyi senyap disana. Rasa yang tak pernah kian sampai benar-benar mati. Selalu ada dan terus-menerus ada. Aku tidak tahu.
Perasaan ini terlalu kejam jika aku tidak mengendalikannya. Rasa dag-dig-dug jantung yang terlalu cepat dibandingkan denyut normalnya. Selalu seperti itu jika aku bersamamu. Iya kamu.
Kamu, kekasihku. Lebih dari tiga tahun kita masih bersama. Kamu lebih dari kekasih, kamu bisa menjadi  sebagai sahabat terbaik ku, bisa menjadi kakak terbaik ku.
Aku mencintaimu, Belahan hatiku. Sangat mencintaimu.

Hari ke-18
#30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 04 Februari 2016

Surat Untuk Om Pidi Baiq

Hai Om Pidi Baiq,  senang rasanya baru pertama kali mengenalmu lewat karyamu yang engkau ber judul "Dilan".

Sebelumnya, aku hanya melihat cover bukumu terpajang di timeline setiap media sosial ku dengan komentar-komentar yang sangat mengagumi tokoh yang bernama Dilan.

Aku pun membeli buku itu karena penasaran dengan ceritamu.

Setelah membacanya, aku pun begitu takjub.  Kau sangat begitu bisa menggambarkan tokoh laki-laki yang begitu sempurna di mata semua wanita.

Membaca buku mu Om rasanya ingin terus kubaca sampai selesai. Karena dari cara engkau menggunakan bahasa di novelmu itu begitu santai. Begitu membuatku penasaran.

Ah Dilan, adakah laki-laki yang seperti dia Om?  rasanya begitu tersanjung jika aku yang menjadi Milea. Membaca dan membayangkannya saja aku sudah bisa jatuh cinta dengan Dilan.  Dilan yang begitu mengerti wanita, memperlakukan wanita dengan sebaik-baiknya, menjaganya, mencintainya dengan baik. Aah... aku jatuh cinta Om dengan sosok seperti Dilan. Aku jatuh cinta.

Aku jadi tidak sabar ingin membeli buku kedua mu Om, melanjutkan kisah Dilanku(seperti Milea memanggilnya). Semangat Om Pidi untuk berkarya. Semoga saja aku bisa menjadi penulis yang handal juga sepertimu .

Untuk Om Pidi Baiq dalam karyanya yang berjudul "Dilan"

Hari ke -5
#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 03 Februari 2016

Rasa terima kasih yang belum tersampaikan

Ucapan terimakasih yang belum tersampaikan itu aku tuju untuk laki-laki penolong itu.
Waktu itu aku ingat ketika saat aku pergi ke tempat wisata bersama teman-temanku. Kami memutuskan untuk pergi naik busway.
Jam 10.00 aku sudah menunggu di shelter, menunggu yang lain. Seperti biasa aku yang selalu ontime jika membuat janji dengan orang lain. Lalu menyusul lah satu-satu temanku.
Jam 11.00 semua sudah berkumpul, lalu kami masuk busway yang kebetulan memang susah agak padat. Yah hari kerja, aku tidak kaget.
Kami semua berdiri di pojok dekat pintu busway sambil mengobrol ria agar perjalanan tidak terlalu panjang.
Asyik mengobrol, tiba-tiba mataku berkunang-kunang, perut sakit tapi bukan mulas  dan aku keringat dingin. aku lalu jongkok dan teman-temanku khawatir saat itu, yang aku dengar "eh lo kenapa?  Mau pingsan?". "Ga tau nih" jawabku. Aku lupa aku memang seperti ini. Tidak kuat untuk berlama-lama berdiri di dalam kendaraan.
Saat itu banyak yang menawariku untuk duduk di kursi. Tapi aku dengan halus menolak dengan alasan masih sedikit kuat untuk berdiri. Lumayan lama aku berjongkok, sampai kurasa sudah kuat berdiri. Aku pun bangun.
"Pusing apa gimana"tanya seorang laki-laki yang ada di samping ku. "Lumayan" jawabku.  "Boleh pinjem tangannya?"lanjutnya.  Entah saat itu aku diam saja dan tidak menolak permintaan itu, aku ulurkan tanganku. "Kalo pusing pijit-pijit bagian sininya aja nanti ilang pusingnya"Katanya sambil menunjuk areanya lalu memijit telapak tanganku. "Oh gitu".
"Gimana?  Udah ilang pusingnya?" Tanyanya tiba-tiba. Aku yang bengong kaget lalu menjawab  "Eh iya". Disaat bersamaan ada yang mencolek punggungku dan menyuruhku duduk di bangku yang sudah kosong. Aku pun buru-buru duduk sampai lupa berterimakasih dengan laki-laki itu.
Aku duduk, dan melihatnya dari jauh menunggu dia menengok ke arahku untuk berterimakasih. Tetapi sampai busway berhenti di shelter  terakhir,  dia tidak menengok sama sekali. Dia buru-buru turun lalu menghilang. Aku pun ikut turun dan bergabung bersama teman-temanku.
Hmm entah ada penyesalan atau entahlah karena tidak sempat mengucapkan terimakasih pada laki-laki itu.
Semoga saja rasa terima kasih ku bisa tersampaikan suatu saat nanti. Tidak enak rasanya. Terimakasih ya. Terimakasih atas pertolonganmu.

Hari ke - 4
#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 02 Februari 2016

CINTA MONYET KU

Hei YIP apa kabar ya dirimu sekarang?  Terakhir kali aku melihatmu waktu engkau di drop out oleh sekolah kita. Terakhir kali aku sudah menyimpan dan membuang jauh-jauh rasa suka untukmu.
Hei YIP seperti apa ya rupamu sekarang, makin tampankah?  Ah sepertinya iya. Waktu smp saja, engkau sudah tampan. Apalagi sekarang.
Aku ingat ketika pertama kali aku melihatmu saat kelas 1 smp dulu, anak laki-laki yang pertama kali kukagumi langsung  saat melihatnya. Dulu kita hanya beda 1 kelas, aku 1.3 dan engkau 1.4. Saat-saat istirahat selalu aku tunggu, memandangimu dari balik jendela kelasku. Ah senangnya bukan main rasanya waktu itu. Sekolah pun menjadi bersemangat karena mu.
Sampai di kelas 2 pun aku masih menyukaimu dalam diam. Memandangimu dari lantai 3, atau bahkan kadang aku turun ke lantai 2 ke kelas temanku hanya untuk bisa melihatmu.
Ah bahagianya.
aku pernah patah hati ketika tahu anak kelas 3 juga menyukaimu dan akhirnya berpacaran denganmu. Ah entahlah aku sangat tidak suka kabar itu. Kakak kelas itu tidak cantik, kenapa engkau mau?  . Huh. Sempat aku sudah tidak mau memandangmu lagi. Dan ternyata aku tidak bisa. Hiks.
Setiap hari aku selalu mencarimu, melihatmu dan memandangmu.
Oh iya, aku berkata jujur menyukaimu pada teman-temanku. Satu geng di kelasku. Mereka ternyata tidak mau aku hanya menyukai diam-diam. Saat engkau lewat kelasku, mereka berteriak kalau ada teman yang menyukaimu. "EH YIP, DAPET SALAM DARI TEMAN GW. YANG ITU" sambil menunjuk ke arahku. Aku kaget dan rasanya mau terjun saja waktu itu. Malu rasanya. Arrghhh. .
Tapi sejak saat itu engkau menyadari keberadaanku, selalu melihat sekilas jika aku ada di sekitarmu. Aku malu. Aku hanya tertunduk jika engkau ada di sekitar ku. dan kadang tersenyum.  Ya ampun aku mau terbang rasanya saat melihatnya tersenyum.
Sampai pada dikelas 3 masih sama Keadaannya. Aku masih mengagumi yang makin lama semakin tampan. Apalagi waktu itu kelasku bersebelahan lagi dengan kelas mu. Terimakasih Tuhan, aku bisa memandangnya setiap kali istirahat atau saat pulang.
Penghujung akhir semester, saat ujian sekolah sudah dekat. Aku jarang melihatmu. Sering kutengok kelasmu siapa tahu engkau ada di dalam kelas. Tapi nihil. Engkau memang tidak masuk sekolah.
Sampai seminggu kemudian, aku mendengar kabar engkau di drop out oleh sekolah. Sedih rasanya waktu itu. Aku tidak bisa lagi melihatmu. Bahkan sampai sekarang. Meski rasa suka itu sudah tidak ada, tetapi rasanya ingin sekali saja aku melihatmu, tahu kabarmu, tahu rupamu saat ini.
Yah semoga saja ya kita bisa bertemu suatu saat nanti. :))


Hari ke-3
#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 01 Februari 2016

Wanita Jalang

Hai mantan si pacar, apa kabar ? masih ingat sama aku ? dulu yang kamu selalu hina dan caci maki. Berteriak Jalang atau apalah di timeline media sosial kepunyaanku. Ah entahlah, aku tidak mengerti dengan kepribadianmu itu. Jalang berteriak jalang. Lebih Jalang mana aku dibanding kamu ? 

Ketika itu pacarku yang dulu menjadi pacarmu adalah orang yang terus kamu sakiti. Lalu ketika ia pergi dan mendapat yang lain, kenapa engkau marah ?. Tidak terima ? Oh iya masih terlalu sayang ya? Kasihan. Pacarmu yang sekarang milikku, bukan sepenuhnya kesalahan diriku yang kau anggap aku merebut nya darimu, aku terlalu jalang karena merebut pacarmu. Untuk apa merebut pacarmu sedangkan dulu rasa suka pun tidak ada pada diriku. Halah, memang wanita Jalang sepertimu selalu tidak pernah bercermin. Aku ingat ketika dulu masih berteman lewat media sosial kepunyaanmu. Kamu selalu berteriak "Percuma cantik kalau kelakuannya minus" atau "Dasar Perek" atau juga "ih cantik-cantik omongannya jelek banget". Melihat itu aku hanya tertawa. Inilah wanita yang tidak punya akal pikiran. Kasarnya "Ngga punya Otak".

Sampai tidak berapa lama, aku mendengarmu sudah menikah dengan selingkuhannmu. Syukurlah, Tidak akan ada lagi yang mengganggu aku dan pacarku. Tapi ternyata salah, kamu masih saja mengganggu. Ah wanita jalang ini. 
Kamu mengirim pesan lewat media sosialku, bertanya kabar lalu berkata rindu dengan pacarku. Dia berkata pacaran sampai 5 tahun tidak akan semudah itu hilang rasa sayangku. Lalu aku peduli ? Aku mengerti jika 5 tahun pacaran lalu pisah, pasti masih ada rasa sayang atau rindu. Tapi kamu tidak memikirkan perasaan suamimu bagaimana? .Jika kamu wanita dewasa tidak akan ada waktu untuk memikirkan sisa rasa sayang atau perasaan rindu pada mantan pacarmu. Kamu sudah memilih menikah dengan suamimu, sekarang dia yang menjadi pemimpinmu, yang kamu hormati. 
Pikirlah baik-baik. 

Entah ini dendam atau rasa kesal saja, aku ingin selalu mencabik-cabikmu. errrrr....
Kesal pada perkataanmu dulu, semua yang kamu ucap, semua gangguan darimu. 

Tapi saat dulu aku memutuskan untuk memblokirmu dari media sosialku dan pacarku, Aku saat ini tenang. Biarkan kita mengurus hidup masing-masing. kita punya kehidupan sendiri. Berusaha asyiklah dengan kehidupanmu sendiri, jangan suka mengusik orang lain. Belum tentu dirimu juga senang jika diusik oleh orang lain. Itu pesanku. 

Berubahlah hei mantan si pacar.. Salam damai dariku :)) 





Hari ke-3
#30HariMenulisSuratCinta
 
Ekspression from my Heart Blogger Template by Ipietoon Blogger Template