Minggu, 15 Februari 2015

Valentine's Gift

Kulihat hujan membasahi jalanan di luar. Musim hujan yang seharusnya tidak datang di bulan ini membawa kesekian angan yang pernah ada saat aku bersama dirimu. Sudah dari sejam yang lalu Aku menunggumu disini, di kafe tempat pertama kali kita bertemu dulu. Kenangan manis pertama yang selalu aku kenang. Pertama kali aku merasakan rasa terpurukku hilang saat munculnya sosok dirimu. Tapi kini lain, hari ini Aku menunggumu untuk mendengarkan keputusan final hubungan kita berdua yang sudah beberapa hari engkau pikirkan begitu juga diriku.

Keputusan yang aku tahu yang tidak akan enak untuk didengar. bagaimanapun juga didengar dari sisi mana saja. Aku melihat sekelilingku, melihat pasangan yang berbahagia merayakan hari kasih sayang yang jatuh pada hari ini. Seperti yang ada di sebelah kananku, Lelakinya memberi kejutan untuk wanitanya setangkai bunga mawar serta coklat. Memang barang yang diberikan sudah hal yang biasa orang" berikan untuk wanitanya. Tapi tidak  dengan cara Lelaki ini. Lelakinya memberi dengan sangat manis, Aku seketika tersenyum melihatnya.

Aku melihat keluar kafe, Dia sudah datang. berlari-lari menghampiriku.
"Maaf, maaf aku telaaat.. Bosse ribet banget hari ini, ada saja yang mendadak harus dikerjakan sampai selesai untuk hari ini. Dia marah" saja kerjaannya. bikin aku pusing tujuh keliling. Parah deh pokoknya. Suka banget ngasih kerjaan ke anak buahnya mendadak gitu".
Aku tersenyum melihatnya yang merasa bersalah dan kesal itu. "Tak apa. Aku juga belum bosan menunggu. kalau aku sudah bosan mungkin aku sudah pulang daritadi". Dia tersenyum berdiri dan mencium keningku "Selamat Hari Kasih Sayang ya, Sayang. Aku tidak bawa apa-apa nih".
"Memangnya aku menyuruhmu membawa apa-apa. Kamu datang juga aku sudah senang" Jawabku. Dia tersenyum lagi.

Aku bercerita tentang hari-hariku di kantor, kalau bosku hampir sama sifatnya dengan bosnya. Beda nya kalau untuk weekend bosku tidak akan mengganggu hak anak buahnya. lalu bercerita tentang hal yang lain, Dia pun juga menceritakan hari-harinya.
Sampai setelah Bercerita ngalor ngidul selama dua jam, aku teringat tujuan pertemuan hari ini.

                                                                  ######

Empat tahun lalu, aku sedang sendiri disini menangisi nasibku yang malang waktu itu. Aku mempunyai kekasih dan sudah menjalin hubungan hampir 3 tahun lamanya. Saat itu, kekasihku meminta ijin untuk pergi ke Malang selama seminggu, pergi untuk ikut program penelitian di kampusnya.  sehari sebelum kekasihku pulang dari peneliitian itu, aku berniat pergi merapikan kostnya. Waktu itu aku mempunyai duplikat kunci kostnya. Sore harinya, aku kesana dan membuka pintu kost kekasihku. Menaruh tasku di dekat ruang tv lalu masuk ke dalam kamar "Mulai dari kamar dulu aja"Pikirku. Ketika sampai dikamar, aku melihat kekasihku ada disana, tetapi ada orang lain disana . Dan Mereka sedang ........ oh Tuhaaaannnn . "AHSAAAN" aku berteriak. Tak sadar air mataku mengalir, jatuh terduduk. Mereka menoleh, dan kekasihku itu sangat terkejut lalu memakai pakaiannya. "Reni, Aku minta maaf, aku khilaf" katanya lalu mau memelukku.
 "Kamu Brengsek San" aku  menamparnya .

Aku menangis berlari keluar dari kost itu menaiki mobilku. Tak peduli dia berteriak memanggil-manggil namaku. Yang aku pikirkan hanya ingin  jauh dari sana. Tak mau melihat Lelaki brengsek itu.
Aku menangis histeris didalam mobil sambil terus menyetir. Tanganku terhenti, ternyata aku sudah ada di kafe daerah puncak. Setelah menyeka air mataku, aku turun dan masuk kesana.
di kafe setelah memesan minum dan makanan , aku hanya menelungkupkan muka ke meja kafe. Frustasi. Terdengar lagu yang disetel dalam kafe tersebut.

                "Terang saja kulepas kan cintamu, kau peluk dia jelas di depanku.
                 apa kamu lupa pengorbananku. Kamu terlalu jahat, perlakukan aku

                  sekejam ini"

Aku mengacak-acak rambutku. "Siaaaaaaallll" aku berteriak. Semua orang menoleh ke arahku. Aku tersenyum malu. Mereka pun tersenyum. Mungkin mereka berpikir diriku sedang patah hati. Memang benaaar. aku mengacak-acak rambutku lagi. Lagu itu selesai , lagu sadis yang dinyanyikan afgan mengalun. mati aja gueee.. lalu menelungkupkan wajah ku ke meja. "Ini gara-gara kamu Ahsan. aku kurang apa untuk kamu?". Aku menangis lirih. Malu jika orang lain menoleh ke arahku lagi.

"Hai, boleh aku duduk disini" suara itu membuat aku mengangkat wajahku. "Eh boleh. siapa ya ?" tanyaku.
Dia pun mengulurkan tangannya, "Aku Randi, boleh tau siapa nama kamu?".
"Aku Reni" kataku seraya membalas salamnya. "Kenapa ? kok kayaknya daritadi frustasi aja sendirian di pojokan sini?. lagi patah hati?"katanya tanpa basa basi. Aku bengong. Tanpa basa basi sekali orang ini, pikirku. Aku tersenyum menjawabnya "cuma lagi gila aja kok Ran. hehe" .
dan seterusnya kami mengobrol sampai pagi lagi. Tanpa sedikitpun aku curiga dengannya, dari wajahnya memang terlihat orang baik.

Setelah lima bulan dari perkenalan di kafe yang lalu, aku makin dekat dengan dirinya. Sampai memutuskan menjalani hubungan dengannya karena ternyata sama" punya ketertarikan walaupun aku hanya jadi yang ketiga. Ya ketiga. Ia sudah punya kekasih saat berkenalan denganku, sudah dua tahun lamanya. Waktu itu, memang hubungannya dengan kekasihnya juga sedang rumit. Kekasihnya itu juga menduakannya dengan teman kampusnya. Sama-sama juga dalam masa frustasi saat itu.
Randi selalu adil denganku, membagi waktunya sama rata antara aku dengan kekasih pertamanya itu. Setidaknya dua minggu sekali kita bertemu. Perhatian dan kasih sayangnya jauh sekali dari Ahsan. Sampai saat ini , aku telah menjalani 4 tahun bersama dengannya, menjadi ketiga dalam kehidupannya.

                                                                       ######

"Bagaimana keputusannya Randi?" tanyaku mengingat tujuan pertemuan hari ini. Sejenak dia terdiam, menghela nafas. Kemudian Ia menegakkan badannya, menggenggam tanganku, berkata "Reni, kita sudah menjalani empat tahun bersama tanpa ada halangan atau masalah sedikitpun. Kenapa kamu bersitegas untuk harus ada pertanyaan ini reni ?".
"Randi, tidak selamanya kita akan seperti ini. Cepat atau lambat kita harus membuat keputusan akan bagaimana hubungan kita ini. kamu akan menjalani dengan dia atau dengan aku. Apa iya kita akan terus begini sampai adanya keputusan ke jenjang berikutnya nanti ? engga kan ?. pikirkan Ran". kataku.

Dengan wajah mulai serius, dia menjawab, "Begini Reni, bagaimana pun aku tidak bisa meninggalkan dia. Kamu tahu dia dulu sangat aku cinta..". Aku menghela nafas. Jawaban yang sudah terduga. Aku melepas genggamannya. "Aku tahu Ran. Pasti ini jawabannya. Aku tahu pasti kamu akan memilih cinta pertamamu" kataku berusaha tegar, menahan tangis.

Entah kenapa aku melihatnya tersenyum, menggenggam tanganku kembali. "Reni, kamu ini egois sekali. Aku belum selesai berbicara. sudah kamu potong saja. Memangnya aku sudah sampai keputusanku ?".
"Memangnya belum?" tanyaku.
"Belum sama sekali. Kamu tahu dia dulu sangat kucinta, tapi tidak sekarang. Sejak dua tahun yang lalu aku sudah tidak menjalani hubungan dengannya Reni. Dia lebih memilih dengan selingkuhannya dulu. Maaf aku tidak pernah membicarakan ini. Karena aku pikir, nanti akan ada saatnya aku membicarakan hal ini denganmu. Aku pun juga lebih memilihmu jika sampai saat ini aku masih dengannya. tapi kenyataannya tidak, pundakku lebih ringan sejak dua tahun yang lalu. hehe Maaf ya". Dia terdiam sebentar, berdiri dan tiba-tiba mengulurkan kotak cincin dan berkata keras "Reni sayang, Maukah kamu jadi pendampingku untuk selamanya?". Spontan orang-orang dikafe itu menoleh ke arahku, Aku tersipu. "Biarkan orang-orang dikafe ini jadi saksi proses lamaranku ini Reni. Bagaimana jawabmu ? Apapun jawabanmu aku terima".
Aku perlahan-lahan mengangguk.
 "Yes" Randi bersorak. Seisi kafe pun ikut riuh bertepuk tangan melihat ini. Aku makin tersipu. Randi memelukku dan berkata "Terima kasih sayang. Aku senang dengan jawabanmu".
"Terimakasih juga sayang. Ini adalah Valentine's Gift terindah yang pernah aku terima. Terima kasih".

                                                               -selesai-

Kamis, 05 Februari 2015

Nakayoshi :))



Nakayoshi = Belahan Jiwa ..
Dulu, belum lama atau sudah lama , barangkali sudah lama sekali malah itu panggilan darimu untukku, yang lalu aku ikuti untuk memanggil dirimu juga.
Naka, naka apa kabar ?
baik ya pasti, banyak teman dan sahabat yang selalu menyertaimu setiap hari, membuat harimu selalu menyenangkan tanpa kecuali. Ya mungkin memang terkadang dirimu selalu ingin menyendiri, bersembunyi dalam kehidupan teman dan sahabatmu termasuk aku.
Ya. Aku.


Hm.. sudah berapa lama ya kita berteman dan mulai bersahabat ? hampir 9 tahun ya ? atau lebih ? ya kurang lebih selama itu. Selama itu, dirimu sudah tahu apa buruknya diriku, bagaimana jeleknya sifatku dan semualah kamu tahu, kecuali mungkin cerita-cerita yang tidak aku ceritakan kepadamu. Banyak naka sebenarnya yang ingin aku sampaikan. Tetapi sayang, aku masih kurang terbuka dengan diriku sendiri. Kau tahu itu.. Selalu ingin aku seperti dirimu, yang mudah bercerita kepada siapa saja, mudah akrab dengan siapa saja, dan mudah dipercaya oleh siapa saja. Bahkan pernah aku cemburu akan hal itu. hehe
Dulu, dirimu masih suka bercerita kepadaku, tentang harimu, tentang masalah yang pernah kau hadapi, atau tentang masalah curhat dari teman/sahabatmu yang lain. Memang jawabanku tidak pernah memuaskan. hehe Jawabanku paling ya hanya 1 atau 2 kalimat saja, atau bahkan hanya jawaban “Duh, gw lagi pusing. ga bisa mikir”. Tetapi dirimu tidak pernah marah kepadaku, paling hanya gerutuan saja yang ada dari dirimu. hehe Maaf ya.


Oiya, Naka. Sejak kita mulai bersahabat kita tidak pernah bertemu ya ? Dirimu tidak ingin bertemu dengan aku ? eh tapi pernah ada kalimat dari dirimu saat aku mengajak bertemu untuk hanya sekedar ingin tahu bagaimana dirimu sekarang, “Nanti kalau hidup gw udah bener, baru kita bisa ketemu”. kurang lebih inti katanya seperti itu. Dulu aku mengiyakan. Dan sejak kemarin ketika aku ingin bercerita tapi aku bersikeras mau langsung bertemu dengan dirimu. Kau langsung marah, dan bilang kalau sudah lelah dengan diriku.
Naka, maaf jika memang keinginan itu tidak bisa kau turuti, tapi jangan lelah menghadapi diriku. Mungkin terdengarnya memang aku egois. tapi, tolonglah jangan seperti itu.
Berceritalah lagi kepadaku tentang dirimu, tentang hari-harimu, tentang apapun yang selalu kau ceritakan.


Naka, tetaplah menjadi nakayoshi dalam kehidupanku.


Teruntuk nakayoshi…

Tertanda dari sahabatmu yang menjengkelkan.
Hawa ~

 
Ekspression from my Heart Blogger Template by Ipietoon Blogger Template